Maskapai di Indonesia Hanya Jadi Batu Loncatan Pilot Asing Bau Kencur

Maskapai di Indonesia Hanya Jadi Batu Loncatan Pilot Asing

Indonesia adalah surganya pilot hijau dari luar negeri karena mudah mendapatkan kesempatan terbang dibanding di negeri mereka sendiri

Keputusan Lion Air yang ingin mengisi seluruh penerbangnya dengan pilot-pilot jebolan pusat pelatihan Lion City di Balaraja, Tangerang, Banten pada 2021 mendatang, sepertinya sangat tepat. Sebab pilot asing yang masuk Indonesia rata-rata masih bau kencur dan hanya menjadikan Indonesia sebagai tempat batu loncatan.

Pengakuan mantan Ketua Tim Nasional Evaluasi Keselamatan Keamanan Transportasi Chappy Hakim di kolom yang dimuat Kompas, bisa menjadi dasar kuat mendesaknya upaya penihilan pilot asing yang bekerja di Indonesia.

Menurut Chappy, sudah menjadi rahasia umum, pada satu dasawarsa terakhir, Indonesia memang krisis ketersediaan pilot. Alhasil muncul sejumlah flying school yang menampung para anak muda yang bercita-cita jadi pilot, namun tak tertampung di sekolah penerbang milik Pemerintah. Dalam hitungan Chappy, setidaknya sudah terdapat tidak kurang dari 20 flying school di Indonesia, di luar yang dimiliki pemerintah di Curug dan Banyuwangi.

“Sekolah pilot tumbuh subur, namun penyaluran para lulusannya tidak tertampung dengan baik dalam mengisi kekurangan tenaga pilot di maskapai-maskapai penerbangan nasional,” kata dia.

Padahal menurut mantan Kepala Staf Angkatan Udara TNI itu, dari segi keterampilan, anak-anak Indonesia sebenarnya memiliki keistimewaan termasuk dalam menerbangkan pesawat terbang. Yang sangat disayangkan, belum ada regulasi yang mengatur keberadaan pilot asing di Indonesia dalam kaitannya dengan upaya melindungi eksistensi pilot yang berasal dari anak bangsa.

Akibatnya, pilot asing mulai membanjiri Indonesia sejak 2007. Banyak orang awam, kata Chappy, kerap keliru persepsi dengan beranggapan bahwa hal tersebut sangat positif agar pilot Indonesia dapat belajar dari pilot asing. “Padahal, pada kenyataanya pilot asing yang masuk ke Indonesia pada umumnya adalah pilot-pilot yang masih bau kencur alias anak kemarin sore dengan jam terbang minim,” jelas Chappy.

Dari penilaian Chappy, para pilot asing itu masuk ke Indonesia semata untuk memperoleh jam terbang yang cukup untuk kemudian pulang menjadi pilot senior di negaranya sendiri atau negara lain.

“Indonesia adalah surganya pilot hijau dari luar negeri karena mudah mendapatkan kesempatan terbang dibanding di negeri mereka sendiri,” kata dia. “Mereka tidak begitu mementingkan berapa dibayar, karena targetnya adalah memperoleh cukup jam terbang untuk bisa bekerja di negara lain.”

Chappy menjelaskan, pilot asing di Indonesia langsung mendapatkan “fixed license”, yang memungkinkan mereka berpindah dengan mudah dari satu maskapai ke maskapai lainnya di dalam negeri. Ini berbeda dengan pilot Indonesia yang bekerja di luar negeri yang hanya memperoleh “provisional license” sehingga tidak membuatnya lantas bisa berpindah dari maskapai satu ke maskapai lainnya.

Dengan pola yang seperti itu, maka ada beberapa di antara pilot asing tersebut saat ini sudah berhasil mengikuti Captaincy Training. Ini adalah sebuah proses latihan peningkatan kualifikasi dari Co Pilot menjadi Captain Pilot pada beberapa maskapai penerbangan swasta Indonesia.

“Ini yang menjadi ironi. Gambarannya sederhana. Saat ini sudah lebih dari 500 pilot anak Indonesia yang baru lulus dan belum mendapatkan pekerjaan, sementara ada sekitar lebih dari 564 pilot asing bekerja di Indonesia,” kata dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.