Peran Tornado Jerman akan Diganti Tiga Jet Tempur Sekaligus

Tornado Jerman

Jerman dilaporkan mendekati penyelesaian pembelian Eurofighter Typhoon, F / A-18E / F Super Hornet dan EA-18G Growler untuk menggantikan armada tua Panavia Tornado.

Faktor pendorong utama di balik rencana kompromi ini adalah perlunya Angkatan Udara Jerman untuk memiliki pesawat terbang yang dapat mengirimkan bom gravitasi nuklir Amerika berdasarkan perjanjian NATO.

Outlet media Jerman melaporkan 26 Maret 2020 dalam rencana yang secara resmi belum disetujui oleh Menteri Pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer itu menyebutkan Jerman dapat membeli total hingga 90 Typhoon dan 30 F / A-18E / F dan 15 EA-18G di tahun-tahun mendatang.

Dari 90 Typhoon, setengahnya akan menggantikan Tornado sementara setengah lainnya akan menggantikan Eurofighters tertua yang sekarang dalam pelayanan Jerman. Saat ini, Angkatan Udara Jerman memiliki sekitar 93 Tornado dan 141 Typhoon.

Typhoon

Jerman telah berjuang membangun rencana untuk mengganti Tornado sejak setidaknya 2017. Tornado pertama diterima tahun 1979 ketika masih menjadi Jerman Barat. Pejabat Jerman ingin mulai membeli pesawat pengganti mulai tahun 2025 untuk memastikan bahwa tidak ada kehilangan kemampuan nuklir ketika Tornado terakhir dipensiun pada tahun 2030.

Tingkat ketersediaan Tornado telah anjlok dalam beberapa tahun terakhir. Jerman dilaporkan menarik sejumlah kecil jet yang telah dikerahkannya ke Yordania untuk melakukan misi pengintaian tidak bersenjata dalam mendukung operasi koalisi melawan ISIS di Irak, meskipun tidak jelas apakah itu akibat dari kesiapan armada yang secara keseluruhan rendah.

Pemerintah Jerman telah mempertimbangkan untuk memperoleh F-35 Joint Strike Fighters, tetapi kemudian memutuskan bahwa Typhoon, yang sudah beroperasi, adalah opsi yang lebih disukai. Masalahnya kemudian apakah pesawat ini akan dapat memenuhi kewajiban Jerman berdasarkan perjanjian pembagian senjata nuklir NATO.

Super Hornet

Kesepakatan itu menyebutkan Jerman harus memiliki pesawat yang mampu membawa bom gravitasi nuklir Amerika B61 yang disimpan di Pangkalan Udara Büchel di Jerman ketika terjadi krisis. Tornado disertifikasi untuk membawa senjata-senjata ini dan tes telah dilakukan untuk mendukung integrasi varian B61-12 terbaru ke pesawat-pesawat itu.

Baik Typhoon maupun Super Hornet sejauh ini tidak memiliki sertifikasi untuk membawa varian apa pun dari B61. Angkatan Laut Amerika mengeluarkan senjata nuklir dari kapal induknya pada 1990-an, yang mengarah pada penghapusan persyaratan Super Hornet, sebuah pesawat yang pertama kali masuk layanan pada tahun 2001, untuk membawa senjata-senjata ini.

Seorang juru bicara Airbus, salah satu pihak utama dalam konsorsium Eurofighter yang membangun Typhoon, mengatakan kepada harian Handelsblatt Jerman bahwa mereka dapat mensertifikasi Typhoon untuk misi nuklir di masa depan.

Namun, pemerintah Jerman tampaknya melihat bahwa Boeing dapat membuat F / A-18E / F siap untuk membawa B61 dalam waktu yang lebih singkat.  Diperlukan waktu bertahun-tahun bagi Typhoon untuk mendapatkan kemampuan multi-peran sejati dan itu belum memperhitungkan rintangan yang akan ada dari pemerintah Amerika dalam hal izin mensertifikasi jet buatan non-Amerika guna membawa senjata nuklir mereka.

EA-18 Glower

“Kami berpikir bekerja dengan pemerintah Amerika akan dapat memenuhi persyaratan Jerman di sana sesuai timeline [Jerman],” kata Dan Gillian, kepala program Boeing F / A-18E / F Super Hornet dan EA-18G Growler, mengatakan kepada The War Zone beberapa waktu silam.

Penambahan Growler ke dalam rencana juga akan menawarkan pengganti yang lebih langsung untuk varian Electronic Combat / Reconnaissance, atau ECR Tornado.

ECR Tornado secara khusus dikonfigurasikan untuk melakukan penindasan terhadap misi pertahanan udara musuh atatau misi suppression of enemy air defenses (SEAD) dan memiliki sistem khusus untuk menemukan radar musuh dan penghasil emisi lainnya.

SEAD memang salah satu dari set misi Growler,  tetapi pesawat ini menawarkan kemampuan peperangan elektronik yang jauh lebih kuat di atas Tornado ECR yang lebih tua. Selain sekadar mengganti Tornado ECR, kemampuan peperangan elektronik udara yang ditingkatkan juga dipandang sebagai persyaratan lain untuk mendukung misi nuklir.

Growler akan sangat penting untuk melindungi Super Hornets yang tidak memiliki karakter siluman saat melakukan misi serangan nuklir dan konvensional.