Prosedur Keamanan Baru Penerbangan Dirilis Pemerintah AS

Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat telah mengeluarkan petunjuk yang telah diperbaharui untuk maskapai penerbangan di seluruh dunia. Petunjuk baru ini dikeluarkan untuk menanggapi permintaan penjelasan langkah-langkah keamanan penerbangan yang dijadwalkan mulai berlaku minggu depan. Seorang juru bicara departemen tersebut menyampaikan hal itu kepada media di Washington DC.

“Petunjuk baru yang lebih jelas ini akan memperkuat keamanan penerbangan global dan merupakan bukti komitmen bersama untuk meningkatkan basis data,” kata James Gregory, juru bicara Administrasi Keamanan Transportasi A.S., yang merupakan bagian dari┬áDepartemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat.

Petunjuk baru ini memberi lebih banyak fleksibilitas dan waktu tambahan untuk memperoleh peralatan deteksi peledak. Diyakini, pedoman ini akan lebih banyak berisi penyesuaian teknis. Maskapai penerbangan Eropa telah diminta untuk melakukan perubahan standar pengamanan untuk memenuhi persyaratan baru ini, yang mulai berlaku pada 19 Juli 2017.

Detil petunjuk baru ini mencakup penyaringan penumpang yang lebih ditingkatkan di bandara, meningkatkan protokol keamanan di sekitar pesawat terbang dan di daerah penumpang, serta pemanfaatan anjing pengaman secara lebih luas untuk mendeteksi sedini mungkin ancaman yang mungkin timbul. Setidaknya, pedoman baru ini akan berdampak pada 325.000 penumpang pesawat pada sekitar 2.000 penerbangan komersial setiap hari di Amerika Serikat. Selain itu, juga mempengaruhi operasional 180 maskapai penerbangan dari 280 bandara di 105 negara.

Pada akhir Juni 2017, Sekretaris Keamanan Dalam Negeri AS, John Kelly telah mengumumkan langkah-langkah keamanan yang disempurnakan untuk semua penerbangan asing yang tiba di Amerika Serikat. Petunjuk baru ini dikeluarkan sebagai respon atas larangan membawa laptop ke atas kabin. Larangan itu diprotes banyak maskapai, dan karenanya pemerintah AS melakukan upaya lain agar dapat menghapus larangan itu tanpa mengambil resiko keamanan.

Pada Maret 2017, AS memberlakukan pembatasan pada penumpang yang membawa barang elektronik besar seperti laptop di kabin di sembilan maskapai penerbangan, yang sebagian besar merupakan maskapai Timur Tengah, untuk mengatasi potensi ancaman bahan peledak tersembunyi. Pejabat Eropa dan A.S. mengatakan bahwa maskapai penerbangan memiliki waktu sampai 19 Juli, untuk menerapkan peningkatan deteksi deteksi peledak.