Rekaman Kokpit Saat-Saat Terakhir Tragedi JAL 123 Ini Bikin Merinding

0

Sebuah rekaman tragedi penerbangan bersejarah dalam video menggambarkan bagaimana awak pesawat Japan Airlines berjuang dengan sangat profesional hingga titik darah penghabisan.

Rekaman suasana kokpit jelang-jelang waktu benturan dalam video di bawah ini, Kapten Pilot Masami Takahama, Kopilot Yutaka Sasaki dan Mekanik Udara Hiroshi Fukuda, tampak berjuang sepenuh tenaga dengan sangat profesional. Bahkan hingga detik terakhir, ketiganya tidak menunjukkan suara panik, umpatan-umpatan atau teriakan tak perlu. Pilot Masaki Takahama justru memberi laporan terakhir dalam rekaman kokpit, “This is the end [inilah akhir]!” dan bunyi benturan pun menjadi akhir dari rekaman suara di Kotak Hitam.

Sebuah pesawat Boeing 747-146SR maskapai penerbangan Japan Airlines No 123 (JAL123, JL123), nomor registrasi JA8119, jatuh di Gunung Takamagahara di Prefektur Gunma, Jepang 100 km dari Tokyo, pada 12 Agustus 1985. Pesawat ini jatuh di dua bubungan gunung di dekat Gunung Osutaka (Bubungan Osutaka).

Kecelakaan pesawat-tunggal ini merupakan yang terparah dalam sejarah penerbangan, dengan seluruh 15 awak pesawat tewas dan 505 dari 509 penumpang meninggal dunia, termasuk aktor dan penyanyi terkenal Jepang, Kyu Sakamoto. Total meninggal 520 orang.

Tragedi JAL 123

Petugas SAR mencari korban selamat dalam tabrakan JAL penerbangan 123 di Gunung Osutaka. (Associated Press)

Namun yang menakjubkan, ada empat penumpangnya yang selamat, satu dari yang selamat adalah pramugari JAL yang sedang cuti. Keempat orang selamat ini semuanya wanita. Pramugari yang sedang cuti, 25, terjepit di antara kursi, wanita berumur 34 tahun dan putrinya berumur 12 tahun yang terkurung di rangka yang masih utuh dan anak perempuan berumur 12 tahun yang pada saat ditemukan terduduk di atas dahan pohon.

JAL 123 lepas landas dari Bandara Haneda pada pukul 6:12 sore waktu setempat, 12 menit lebih dari jadwal. Usai lepas landas, 12 menit kemudian, ketika pesawat memasuki ketinggian jelajah di atas Teluk Sagami, bagian penyekat buritan belakang pesawat pecah dan menghasilkan ledakan dekompresi yang merobek ekor pesawat.

Terlepasnya bagian ekor ini merusak seluruh sistem hidraulik pesawat secara keseluruhan, mengakibatkan pesawat melayang-layang tak terkendali selama sekitar 30 menit sebelum akhirnya jatuh menabrak gunung. Dalam menit-menit terakhir itu, banyak korban menyempatkan diri menulis surat perpisahan untuk keluarga mereka.

Japan Airlines JAL 123
Korban selamat dirawat di rumah sakit.

Pilot mencoba mencari tempat mendarat darurat, mula-mula kembali ke Bandara Haneda di Tokyo, tempat pesawat ini lepas landas. Ketika pesawat semakin tidak terkendali, pilot mencoba terbang menuju pangkalan Angkatan Udara Amerika Serikat di Yokota. Namun, semua usaha itu sia-sia. Pada pukul 6:56 waktu setempat, pesawat hilang kontak dari radar. Pesawat itu menabrak punggung gunung dan kemudian menabrak gunung kedua kemudian terbalik dan menghantam tanah dengan punggung pesawat terlebih dahulu.

Menurut penyelidikan yang dilakukan Komisi Penyelidik Kecelakaan Pesawat dan Kereta Api Jepang kemudian, ekor pesawat ernah tersenggol dalam sebuah pendaratan di Bandara Itami pada 2 Juni 1978. Ekor pesawat itu kemudian tidak diperbaiki dengan sempurna oleh teknisi Boeing dan JAL yang menyebabkan berkurangnya kemampuan penyekat bertekanan bagian belakang (rear pressure bulkhead) dalam menahan beban tekanan selama penerbangan sehingga mengakibatkan lemahnya logam sebagai penyebab kecelakaan terjadi.

FLASHBACK INSIDEN JAL : Gara-gara Retak Kecil, Kecelakaan Terparah Sepanjang Sejarah Ini Terjadi 

Pasca kecelakaan, Presiden JAL Yasumoto Takagi, mengundurkan diri dari jabatannya. Di Haneda, manajer perawatan pesawat JAL juga bunuh diri akibat tidak kuat menanggung malu yang telah ditimbulkannya kepada perusahaan.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.