Air Senegal Masih Menunggu ATR Baru

    Jauh di bagian barat Afrika, Air Senegal SA, maskapai penerbangan nasional Senegal yang baru terus berbenah dan bersaing. Mereka telah menandatangani kontrak untuk pembelian dua ATR 72-600. Meski pesawat ATR, ini adalah prestasi besar bagi dunia penerbangan Afrika. Benua ini memang relatif tertinggal di sektor ini, kecuali pemain besar seperti Mesir dan Afrika Selatan yang telah mapan.

    Dengan perkiraan nilai sekitar 50 juta euro sesuai harga katalog, kontrak tersebut ditandatangani di hadapan Maimouna Ndoye Seck, Menteri Pariwisata dan Transportasi Udara Senegal dan Elisabeth Borne, Menteri Transportasi Prancis.

    Pengiriman dua pesawat turboprop ini, yang merupakan armada awal maskapai ini, akan dilakukan pada bulan November 2017. Upacara peresmian telah dijadwalkan akan diadakan pada 7 Desember 2017, bersamaan dengan peresmian Bandara Internasional Blaise Diagne yang baru. Lokasi bandara ini ada di Diass, terletak sekitar 50 kilometer dari Dakar.

    Pengembangan maskapai penerbangan nasional adalah bagian dari rencana pemerintah yang lebih luas yang disebut Plan for a Emerging Senegal (PES). Program itu bertujuan membangun kebijakan ekonomi dan sosial baru dalam jangka menengah sampai jangka panjang, untuk merevitalisasi pertumbuhan ekonomi negara dan untuk meningkatkan kualitas hidup rakyatnya.

    Sejak likuidasi Senegal Airlines, layanan udara dalam negeri mereka memang telah terganggu. Bagaimana tidak, Senegal tidak memiliki maskapai sendiri sejak itu. Bisnis penerbangn Afrika memang lekat dengan isu korupsi. Biasanya, maskapai remuk karena harus melayani para politisi.

    “Ambisi kami adalah maskapai baru ini memainkan peran utama di Senegal, dan di seluruh Afrika Barat. Setelah satu tahun melakukan penilaian, dilakukan oleh tim ahli yang dibantu oleh perusahaan konsultan, dan atas dasar rencana bisnis maskapai penerbangan, pilihan armada awal berfokus pada ATR 72-600an. Keinginan Air Senegal SA adalah menawarkan kepada penumpang, pengalaman yang menyenangkan dan terjangkau di atas pesawat modern. Kami yakin bahwa ATR adalah pilihan terbaik untuk memenuhi persyaratan pasar,” kata Mamadou Lamine Sow, Chief Executive Officer Air Senegal SA.

    Christian Scherer, Chief Executive Officer ATR menyatakan bahwa perusahaan itu menyambut baik maskapai baru maupun negara baru ke keluarga ATR. Menurut perkiraan pasar yang dibuat ATR, Afrika dan Timur Tengah akan membutuhkan 300 pesawat turboprop pada tahun 2035, dan 400 rute baru harus dibuat. “Dengan ATR, penumpang Senegal akan mendapatkan keuntungan dari sistem transportasi yang menghasilkan banyak peluang bisnis, sehingga membantu meningkatkan ekonomi lokal,” ujar Scherer.

    Sebagai bagian dari perkembangannya, Air Senegal SA selanjutnya berencana mengakuisisi pesawat berlorong tunggal, diikuti oleh pesawat berkapasitas tinggi, yang memungkinkannya mengoperasikan rute Paris-Dakar yang terkenal.