Penerbangan Supersonik Seharga Kelas Bisnis, Mungkinkah?

Boom Technology telah mengumpulkan US$ 33 juta untuk membangun dan menerbangkan prototipe pertama pesawat komersial supersonic. Perusahaan ini berharap pada akhirnya bisa membangun sebuah pesawat yang mampu melakukan perjalanan dari New York ke London dalam waktu tiga jam 15 menit, atau kurang dari setengah waktu yang diperlukan pesawat komersial biasa.

Untuk saat ini, mereka akan menggunakan pesawat demonstrasi  XB-1 yang berukuran 1/3 dari ukuran asli. Pesawat yang dijuluki Baby Boom ini dibangun untuk menguji konsep teknologi supersonik yang dikembangkan Boom Technology.

Jika tes dengan pesawat kecil ini sukses nantinya akan diterapkan pada pesawat dengan ukuran sebenarnya yang berisi 45 kursi dan terbang pada kecepatan 1.451 mil per jam.

Boom telah menjadi pembicaraan di dunia kedirgantaraan setelah mereka meluncurkan XB-1 pada bulan November 2016 dan selesai pengujian fisik. Mereka mengumpulkan dana US $ 33 juta dari berbagai investor seperti 8VC, Caffeinated Capital, Palm Drive Ventures, RRE Ventures and YC’s Continuity Fund.

“Ini dana pesawat pertama kami, semua jalan melalui tes penerbangan,” kata pendiri dan CEO Boom Blake Scholl dalam sebuah wawancara dengan TechCrunch. “Sekarang kita memiliki semua bagian yang kita butuhkan – teknologi, pemasok dan modal -. Untuk pergi dan membuat beberapa sejarah dan mengatur beberapa rekor kecepatan”

“Kami hampir menyelesaikan semua rekayasa, dan komponen sayap pertama  akan datang  di kantor minggu ini. Kita akan melakukan tes struktural, dan kemudian kami mungkin sekitar satu tahun lagi dari penerbangan.”

Penerbangan komersial supersonik sebenarnya bukan hal yang baru. Dari tahun 1976 hingga 2003, siapa pun bisa terbang di atas  jet Concorde yang melesat  langit dengan kecepatan 2 Mach asalkan mereka bisa membayar tiket sebesar kurang lebih US$15.400 atau sekitar Rp205 juta.

Tingginya harga ini yang menjadi salah satu penyebab Concorde tidak bisa bertahan lama. Boom Technology menginginkan harga yang jauh lebih murah yakni hanya sekitar US$2.500 atau sekitar Rp33 juta untuk terbang melintasi Atlantik.

“Saya melihat dan menyadari bahwa semua orang ingin penerbangan lebih cepat,” katanya kepada Forbes. “Airlines menginginkannya. Penumpang menginginkannya. Concorde tidak bekerja karena dia sangat boros bahan bakar yang membuat penerbangan sangat mahal. Jadi sebagai titik awal, saya melihat  apakah mungkin biaya penerbangan ini setara kelas bisnis.”

Selain Boom Technology, perusahaan lain  Aerion dan Spike Aerospace juga sedang bekerja untuk membangun pesawat supersonik. Mereka berharap bisa menerbangkan pesawat pada 2023 nanti.