Ini Efek-Efek Buruk Pada Tubuh Selama Penerbangan

Ini Efek-Efek Buruk Pada Tubuh Selama Penerbangan

Merasa berada di ruang sempit dan terjepit di antara kursi-kursi, antrean tak berujung dan merasa hambar saat menyantap sajian makanan adalah beberapa hal yang dialami orang saat terbang. Tapi apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh selama penerbangan?

Menurut data yang disediakan dalam infografis oleh Compare Travel Insurance, efek dari duduk di pesawat terutama pada penerbangan jarak jauh (long haul) dapat membuat hal-hal tak mengenakkan bagi penumpang, seperti sinus dan sakit perut.

Lebih dari sepertiga selera makan akan hilang saat terbang pada ketinggian yang tinggi karena berkurangnya cairan dan perubahan tekanan udara yang mempengaruhi telinga, sinus dan indra perasa.

Lebih mengejutkan, laporan itu menyatakan perut Anda akan mengembang karena perubahan tekanan udara yang menyebabkan kembung, pengin kentut, sakit perut hingga sembelit saat buang air.

Jika Anda dalam penerbangan selama tiga jam, sebanyak 1,5 liter air akan terhidrasi dari tubuh karena tingkat kelembaban yang rendah. Hidung, mulut dan tenggorokan pun tak ayal akan berasa kering.

Temperatur udara di luar yang dinginnya bisa 100 kali, ditambah pendingin ruangan di bagian dalam kabin, mempermudah penyebaran kuman dan virus di dalam kabin.

Ilustrasi juga menawarkan tips tentang cara mengatasi efek perasaan buruk saat menjalani penerbangan, mulai dari menghindari alkohol dan minum banyak air, menjaga tangan tetap lembab dan berjalan di sekitar kabin untuk mengurangi pembengkakan kaki.

Ini Efek-Efek Buruk Pada Tubuh Selama Penerbangan
(Foto: compareinsurance.com.au)
Ini Efek-Efek Buruk Pada Tubuh Selama Penerbangan
(Foto: compareinsurance.com.au)

Baru-baru ini, sebuah laporanmenunjukkan ada empat kali potensi kemarahan di udara ketika penumpang ekonomi masuk ke lorong kelas utama. [Baca: Tingkat Stres Penumpang Penerbangan Reguler Lebih Tinggi]

“Pesawat modern adalah mikrokosmos masyarakat sosial berbasis kelas, dan bahwa meningkatnya insiden kemarahan udara ini bisa dipahami melalui lensa ketidaksetaraan,” jelas penulis study itu, Katherine DeCelles dari University of Toronto dan Michael Norton dari Harvard Business School, seperti dikutip news.com.au.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.