Novita Lufiana: Pramugari Ayu Ini Saat Kecil Pernah Jadi Korban Bullying

Novita Lufiana: Pramugari Ayu Ini Saat Kecil Pernah Jadi Korban Bullying

Menjadi seorang pramugari tak hanya mensyaratkan paras ayu, tubuh proporsional dan kepandaian menjaga penampilan. Seorang pramugari yang baik, wajib memiliki karakter pribadi yang tangguh, sabar dan tahan banting. Profesi ini juga mensyaratkan kemampuan berpikir cepat, bertindak cekatan, tepat, solutif dan efisien, saat terjadi situasi darurat selama penerbangan.

Siapa sangka karakter itu kini dimiliki Novita Lufiana Sari, pramugari maskapai penerbangan nasional Lion Air. Bagaimana tidak, jika menilik masa kecilnya, dara kelahiran Sleman, Yogyakarta, 21 tahun lalu, itu pernah jadi objek bullying. Bukan di-bully senior seperti jamak terjadi di lingkungan sekolahan. Lebih parah lagi, ia jadi bulan-bulanan semua teman sekelas!

Waktu itu, Vita, demikian ia biasa disapa, masih duduk di bangku sekolah dasar SD Negeri 2 Langenharjo, Kendal, Jawa Tengah. Vita dikenal cengeng dan gampang nangis. Tak cuma itu, Vita juga dikenal lambat mengikuti pelajaran.

“Iya, waktu SD saya itu goblok, ga bisa ngapa-ngapain. Di sekolah seringnya dapat nilai jelek. Semua teman sekelas memusuhi karena selain sulit mencerna pelajaran, saya juga cengeng, nangisan,” kata Vita saat diwawancarai flightzona.com, belum lama ini.

Saking cengengnya, kata dia, “Teman-teman satu kelas sampai memusuhi saya. Orang-orang memandang saya sebelah mata.”

Namun justru dengan menjadi objek bullying habis-habisan semasa SD itu, Vita membulatkan tekad memperbaiki diri. Tekad bulat putri dari pasangan Ari Waskito dan Murni itu perlahan tercapai. Memasuki masa SMP pada 2006, Vita mulai menunjukkan prestasinya. Dia jadi atlet basket yang mengantarkan tim basket sekolahnya, SMP Negeri 2 Patebon Kendal, meraih juara di berbagai kompetisi.

Beranjak ke bangku SMA di SMA Negeri 2 Kendal pada 2009, Vita remaja kian moncer. Selain tetap memperkuat tim basket di sekolahnya dan menjadi atlet program Penelusuran Minat Dan Kemampuan (PMDK), ia mulai membangun kompetensi lain di luar sekolah. Vita mencoba-coba jadi penyiar di Radio Swara Kendal FM. Selama setahun, ia rajin menyapa pendengar setia radio kebanggaan warga Kendal itu.

“Dari situ juga, saya mempelajari dengan praktik langsung, bagaimana cara berkomunikasi yang baik. Saya mengenal public speaking bukan dari bangku kuliah, tapi dari bersiaran,” ungkapnya.

Banting Setir

Lulus SMA pada 2012, Vita yang ingin meneruskan ayahnya yang anggota TNI Angkatan Darat itu, sebenarnya sejak kecil berangan-angan ingin bergabung dalam Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad). Tapi ia justru banting setir ingin mencoba tantangan lain. Menjadi pramugari.

“Saya merasa tertantang begitu tahu seluk beluk profesi pramugari. Sama menantangnya dengan menjadi Kowad,” ujar Vita yang saat remaja justru sering berpenampilan tomboy dan bergaya androgini itu. Lagi pula, kesempatan berkarier sebagai pramugari, lebih terbuka lebar ketimbang harus bersaing menjadi Kowad.

Mengikuti kelas di lembaga pendidikan calon kru kabin Jogja Flight, Vita mulai berkenalan bagaimana cara bersolek dan menjaga penampilan. Lambat laun, gaya remajanya yang tomboy pun luntur.

 

Novita Lufiana Sari2
Vita, yang saat remaja tomboy, bertansformasi menjadi feminin sejak mengenyam pendidikan pramugari. (Foto: Facebook/Vita)

Novita Lufiana: Pramugari Ayu Ini Saat Kecil Pernah Jadi Korban Bullying

Lulus dari pendidikan singkat itu, Vita tidak langsung menjadi Flight Attendant (FA). “Saya jadi Ground Staff dulu karena saat itu biaya sekolah pramugari mahal. Saya hanya bisa masuk di sekolah Ground Staff yang setingkat D1 (1 tahun). Tapi saya berhasil selesaikan pendidikan itu dalam delapan bulan,” kisahnya.

Diterima sebagai Ground Staff di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Vita ditempatkan di Terminal 2 menghandle penumpang dari tiga maskapai asing: China Airlines, China Southern Airlines dan Thai Airways.
Rutinitas menyapa dan mengecek kelengkapan administrasi para penumpang dua maskapai penerbangan asal Negeri Panda itu, membuat Vita memiliki kemampuan baru. Dari situ ia mengasah skill komunikasinya dalam bahasa Mandarin untuk melengkapi kemampuan berbahasa Inggrisnya.

Angka keberuntungan

Setahun menjadi Ground Staff, Vita mencoba peruntungan mengikuti seleksi pramugari Lion Air. Tes pertamanya gagal di tahap interview. “Saya gagal karena keliru saat menjawab pertanyaan yang kesannya sederhana tapi ternyata pertanyaan itu menjebak,” kata penyuka buku-buku motivasi itu. “Justru dari tak lolos ini, saya jadi tahu dan belajar dari kekurangan saya.”

Tak kenal patah arang, ia mencoba lagi. Di kesempatan kedua, ia berhasil menyingkirkan ratusan peserta lain. Dan agaknya lolosnya Vita pada kesempatan kedua ini berhubungan dengan angka keberuntungannya: 2.

Vita memang tak lepas dari angka itu sejak lahir. Ia misalnya, adalah anak kedua dari dua bersaudara. Saat sekolah pun secara tak sengaja, masuk di SDN 2 Langenharjo, berlanjut ke SMPN 2 Kendal dan SMAN 2 Kendal. Saat tes pramugari pun, ia berhasil lolos dalam kesempatan kedua. “Saya juga menguasai dua bahasa, Inggris dan Mandarin,” imbuh Vita.

Kini setelah menjadi pramugari, Vita telah merasakan enaknya hidup mandiri berkecukupan. Hanya berbekal pendidikan D1, sebagai pramugari, ia memiliki penghasilan jauh lebih besar dari rata-rata lulusan S1. Termasuk dibandingkan teman-teman sekelasnya semasa SD yang dulu memandang Vita sebelah mata.

 

Novita Lufiana: Pramugari Ayu Ini Saat Kecil Pernah Jadi Korban Bullying
(Foto: Facebook/vita)

Mulai Maret 2016 ini, Vita juga dipercaya menjadi lecturer di almamaternya, sekolah pramugari Jogja Flight. “Ini sebenarnya bagian dari check performance saya sekaligus mengisi waktu libur. Mengajarkan cara make up tata rambut, berpakaian dan lain-lain yang berhubungan dengan penampilan,” ujarnya.

Novita Lufiana: Pramugari Ayu Ini Saat Kecil Pernah Jadi Korban Bullying
Vita (posisi tengah, duduk) bersama para siswa sekolah pendidikan pramugari Jogja Flight. (Foto: Facebook/Vita)

Nah, lengkap sudah. Kini teman sekelasnya semasa SD dulu banyak yang pangling. Boleh jadi sebagian menyesal pernah membully Vita. Bahkan yang dulu memusuhinya,  kini balik mengejar-ngejar berharap mendapat secuil cintanya. “Ada satu teman pria saat SD, dia sering banget membully, sekarang malah balik ngejar-ngejar saya. Hahahaha,” kelakar Vita.

Baca selanjutnya:

Novita Lufiana: Pernah Diancam Pistol oleh Penumpang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.