DAMPAK KECELAKAAN PESAWAT : Banyak Karyawan Maskapai Stres, Sakit dan Resign

Flydubai

Bagaimana mengatasi bencana penerbangan? Pertanyaan ini selalu menuntut untuk dijawab oleh otoritas penerbangan terutama pihak maskapai.

Tidak ada yang meginginkan adanya kecelakaan pesawat terbang. Namun apapun bisa terjadi. Banyak faktor yang memungkinkan pesawat jatuh kapan saja. Bahkan, ketika semua dalam kondisi normal pun, tidak ada jaminan pasti bahwa pesawat 0% aman dari kecelakaan.

Ketika kecelakaan sudah terjadi, seperti kasus Flydubai, peran otoritas penerbangan dan maskapai sangat menentukan. Terutama maskapai. Sebagai perusahaan, maskapai harus benar-benar mampu menjawab semua kebutuhan keluarga korban. Sebab itulah kewajiban moral dan sosial perusahaan penerbangan. Di era modern semua maskapai memiliki Standar operasional untuk masalah ini.

Robert Bor, seorang psikolog klinis Inggris yang mengkhususkan diri dalam isu-isu seputar penerbangan, mencatat bahwa setelah terjadi kecelakaan pesawat terbang, akan banyak staf maskapai yang jatuh sakit.

Dalam surveinya, seperti dikutip The National Business, Selasa (22/3/2016), Bor menyebut pada hari biasa ada sekitar 1% hingga 2% staf maskapai absen ke kantor. Jumlah itu meningkat setelah terjadi kecelakaan pesawat yang melibatkan maskapai tempat bekerja. Jumlah karyawan absen karena sakit biasanya meningkat 5% hingga 25%. Rata-rata penyebabnya adalah goncangan kejiwaan. Seperti merasa sedih karena kecelakaan dan kehilangan rekan rekan sejawat.

Janie-Lee Brown, manajer operasi di Morgan McKinley di Dubai, sebuah konsultan spesialis rekrutmen, mengatakan, “Setelah tragedi 11 September, karyawan diizinkan untuk mengambil cuti kapanpun demi mengobati kesedihan yang dialami.”

Brown mengatakan beberapa karyawan bahkan memilih untuk keluar dari pekerjaannya. “Situasi psikologis ini akan berkepanjangan. Dan mungkin bisa pulih setidaknya hingga waktu enam bulan,” terangnya.

Dari sinilah butuh kepemimpinan di perusahaan maskapai yang mumpuni. Langkah strategis dan informatif yang diambil jajaran petinggi maskapai akan memengaruhi kondisi psikis bukan saja untuk keluarga korban pesawat namun juga internal perusahaan.

Salah satu yang dilakukan Flydubai, misalnya, adalah membentuk tim bencana internal berkaitan dengan kecelakaan. Tin ini bertindak cepat untuk melakukan pendampingan kepada seluruh keluarga korban. Konseling dan layanan untuk berkunjung ke lokasi kejadian pun menjadi tawaran utama untuk mendekatakan secara emosi.

Sementara manajemen terus bertindak cepat untuk memantau dan melakukan koordinasi dengan otoritas penerbangan di negara lokasi kecelakaan. Tujuannya untuk menyampaikan informasi sedetail mungkin tentang perkembangan evakuasi dan penyelidikan.

Untuk yang satu ini, Flydubai tercatat telah melakukan konferensi pers dua kali dalam 48 jam. Tak hanya itu, Flydubai juga membuat 10 laporan pers mengenai kecelakaan yang terjadi.

Untuk mengatasi kebutuhan finansial, Flydubai mengatakan akan membayar keluarga korban US$20.000 (Dh73,455) atau sekitar Rp263,8 juta per penumpang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.