Maret, Bandara Pondok Cabe Siap Dilandasi Garuda Indonesia

Pelita Air Services, pengelola Bandara Pondok Cabe, mengaku sudah menyiapkan bandara itu sebagai bandara komersial berjadwal.  Garuda Indonesia diharapkan jadi maskapai perdana yang terbang dari bandara di Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten itu.

Plt. Direktur Utama Pelita Air Services, Rifky E. Hardijanto menjelaskan pihaknya sebagai pengelola Bandara Pondok Cabe terus melakukan persiapan fisik hingga pemenuhan aspek keamanan. Pelita optimistis Bandara Pondok Cabe bisa melayani penerbangan komersial Garuda Indonesia mulai Maret 2016 mendatang.

“Progres fisik jalan terus. Dari sisi fisik, pemasangan infrastruktur untuk pengoperasian Pondok Cabe hampir selesai,” kata Rifky seperti dikutip detikFinance, Minggu (7/2/2016).

Untuk aspek keamanan terminal, Pelita menyiapkan fasilitas security x-ray. Keberangkatan dan kedatangan penumpang untuk tahap awal, masih memakai terminal lama.

“Renovasi terminal belum karena perlu waktu. Kami manfaatkan terminal yang dikelola untuk terminal Pertamina,” jelasnya.

Pelita sebagai operator bandara saat ini terus menjalin komunikasi dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sebagai regulator. Koordinasi diperlukan untuk memenuhi standar keselamatan penerbangan.

“Izin sebagai bandara komersial berjadwal yang penting ada sertifikasi [dari Kemenhub],” kata dia.

Saat beroperasi melayani penerbangan komersial, bandara ini akan mengikuti aktivitas Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur. Sehingga segala operasional bandara akan depenpen alias satu komando dengan Bandara Halim.

Untuk memantapkan komersialisasi penerbangan umum berjadwal di bandara itu, anak usaha PT Pertamina (Persero) tersebut juga telah berkoordinasi dengan Walikota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany Wardana.

“Kami sudah ketemu Bu Airin. Pemkot Tangsel mendukung. Beliau berharap ada economy effect,” ungkapnya.

Sebagian pihak mengkritisi komersialisasi bandara Pondok Cabe ini karena letak bandara yang terlalu dekat dengan Bandara Halim Perdana Kusuma. Pertimbangan keamanan penerbangan menjadi sorotan utama. Apalagi bandara tersebut tidak dikelola oleh PT Angkasa Pura yang selama ini dikenal sebagai perusahaan yang memonopoli otoritas operator bandara di Indonesia.

Pada pertengahan Januari lalu, Kemenhub menegaskan tidak akan memberikan izin untuk komersialisasi Bandara Pondok Cabe, karena memiliki ruang udara yang bertabrakan dengan Bandara Halim Perdanakusuma dan Soekarno-Hatta.

Saat itu, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengatakan Bandara Pondok Cabe tidak dapat dikomersialkan karena memiliki ruang udara berimpitan dengan Bandara Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma.

“Itu tidak bisa. Kalau infrastruktur kan urusan operator bandara, tetapi traffic udaranya kan izinnya di saya,” katanya pada Jumat (8/1/2015).

Jonan menuturkan komersialisasi bandara bukan ditentukan kapasitas di darat, melainkan lalu lintas udara di kawasan tersebut. Kementerian Perhubungan tidak akan memberikan izin untuk komersialisasi bandara yang ruang udaranya bertabrakan dengan ruang udara bandara lainnya.

Kemenhub juga menilai komersialisasi Bandara Pondok Cabe Tangerang Selatan belum memenuhi persyaratan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan, terutama terkait batas-batas ketinggian di sekitar bandara.

Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) adalah wilayah daratan dan/atau perairan, serta ruang udara di sekitar bandara yang digunakan untuk kegiatan operasi penerbangan, dalam rangka menjamin keselamatan penerbangan.

Selama ini komersialisasi Bandara Pondok Cabe memang terkendala persoalan KKOP dan operasional ruang udara. Pasalnya, arah landasan pacu Bandara Pondok Cabe berpotensi mengganggu kegiatan penerbangan di bandara lainnya.

Posisi landasan pacu Bandara Pondok Cabe saat ini terlihat memotong arah landasan pacu dari Bandara Halim Perdanakusuma. Runway  bandara tersebut tegak lurus dengan Halim Perdanakusuma, sehingga harus bergantian.

Kondisi jalan yang padat di sekeliling Bandara Pondok Cabe berpotensi mengganggu peralatan navigasi yang sangat sensitif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.