Dilema Rolls-Royce dalam Industri Pesawat Terbang

    CEO Rolls-Royce, Warren East, menyatakan kemungkinan untuk membuat mesin untuk pesawat berbadan sempit cukup menarik. Namun, dia mengatakan biaya untuk kembali masuk ke industri pesawat terbang cukup besar.
    Pernyataan itu dianggap sebagai sinyal Rolls-Royce hanya akan meramaikan pasar pesawat yang mengangkut lebih dari 200-an penumpang. Perusahaan itu diperkirakan kembali membangun kongsi dengan rivalnya, Pratt & Whitney, yang sempat pecah pada 2012. Situasi keuangan Rolls-Royce memburuk dalam dua tahun terakhir karena keuntungannya terus berkurang, salah satunya karena dampak fluktuasi harnya minyak dunia. Namun, problem keuangan perusahaan bersumber dari keputusan untuk menarik diri dari pembuatan mesin untuk pesawat berbadan sempit untuk fokus pada pesawat berbadan lebar seperti A380, A350 XWB, dan Boeing 787 Dreamliner. Sejak itu, pesanan untuk pesawat berbadan lebar melambat, sementara pasar berbadan sempit malah meroket berkat permintaan untuk A320neo dan Boeing 737 Max.
    ia juga mengatakan bahwa Rolls-Royce masih menghasilkan uang dari mesin servis di pesawat berbadan sempit tua dan bisa mengembangkan mesin baru untuk generasi pesawat yang akan menggantikan A320 dan 737.
    Namun, pesawat baru itu tidak akan masuk pasar sampai sekitar 2030. Rolls-Royce akan membuat keputusan tentang upaya untuk mengembangkan mesin untuk produk mereka di awal 2020-an. “Namun Rolls-Royce tidak harus masuk kembali pasar berbadan sempit,” ujar East sebagaimana dilansir The Guardian.
    Setelah menarik diri dari pembuatan mesin pesawat berbadan sempit, volume penjualan Rolls-Royce, malah anjlok.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.