N219 Diklaim Lebih Unggul Dibanding DHC-6 Twin Otter, Ini Alasannya

Prototipe pesawat N219 yang dibangun PT Dirgantara Indonesia kembali melakukan uji terbang dengan lepas landas di  Bandara Husein Sastanegara, Kota Bandung Rabu 23 Agustus 2017.  Pesawat lepas landas sekitar pukul 09.15 WIB dan berputar-putar di langit Bandung untuk kemudian mendarat sekitar pukul 10.00 WIB.

Kapten penerbang Esther Gayatri Saleh kembali menjadi pilot utama dalam uji terbang tersebut didampingi kopilot Kapten penerbang Adi Budi Atmoko.

Direktur PT DI, Budi Santoso, mengatakan keberhasilan uji terbang pesawat N219 sangat penting karena sebagai pembuktian bahwa bangsa Indonesia mampu melakukan rancang bangun, testing, sertifikasi, hingga produksi.

“Tidak ada technical Assistnce dari bangsa asing. Semua adalah hasil kerja keras olah pikir atau brainware bertahun-tahun dari para engineer Indonesia,” kata dia.

Purwarupa pesawat ini, sudah melakukan serangkaian pengujian dimulai dari wing static test, landing gear drop test, fungtional test engine off, medium speed taxi, high speed taxi, dan hopping.

Serangkaian tes, analisa, dan daya tahan tidak hanya sampai uji terbang saja, pesawat ini juga harus melewati uji kelelahan, yang membutuhkan 3.000 circle atau sejak mesin dihidupkan untuk terbang hingga mendarat dan kembali diparkirkan.

Sebelumnya, pada 16 Agustus 2017 pesawat N219 hasil pengembangan riset PT Dirgantara Indonesia  dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah diujicoba dan sukses dalam melaksanakan penerbangan pertamanya.

Namun, untuk sampai bisa dipasarkan, pesawat harus melalui tahapan-tahapan uji hingga mendapatkan sertifikat kelaikan udara. Artinya bahwa pesawat tersebut sudah aman dan bisa mengudara.

Direktur produksi PT Dirgantara Indonesia, Arie Wibowo mengatakan N219 memiliki beberapa keunggulan dibanding pesawat sejenisnya seperti DHC-6 Twin Otter yang berasal dari Kanada.

DHC-6 Twin Otter

“Kelebihan dengan Twin Otter, desain lebih baru, Twin Otter desain tahun 70-80an. Yang paling penting pesawat ini punya kemampuan low speed manuver ability. Dengan kecepatan yang rendah dia masih mampu memanuver pesawatnya,” katanya.

Selain itu kata Arie, N219 ini tidak terlalu membutuhkan landasan pacu yang panjang. Untuk memulai terbang (take off) dan mendarat (landing), pesawat dengan kapastitas 19 penumpang ini hanya membutuhkan jarak lintasan 300 meter. Berbeda dengan Twin Otter yang membutuhkan jarak pacu hingga 600 meter.

Sehingga pesawat N219 ini sangat cocok untuk digunakan di wilayah perintis atau wilayah terpencil yang memiliki jarak landasan pacu yang terbatas.

“Itu sangat karakteristik di daerah timur Indonesia. Yang mampu [take off] Twin Otter, tapi kita bikin yang lebih mampu lagi,” kata dia.

Dalam segi mesin, meski hampir serupa namun teknologi avionik yang dikembangkan PT DI lebih modern. Garmin G-1000 dengan Flight Managemen System yang ada di dalamnya sudah terdapat Global Positioning System (GPS), sistem autopilot, dan sistem tanda bahaya.

Untuk sisi harga, N219 rencananya akan dibanderol sebesar US$6  juta, atau setara Rp83 miliar, sementara Twin Otter berkisar antara US$7-US$8 juta.

Ia berharap proses uji kelaikan ini selesai tahun 2018 sehingga pada tahun 2019, pesawat sudah bisa dipasarkan.

Direktur Utama PT DI Budi Santoso mengatakan pesawat ini sudah banyak diminati oleh sejumlah perusahaan. Bahkan sudah ada yang berniat memesan 50 unit pesawat N219.

 

Namun, ia belum berani melakukan kontrak atau penjualan, hingga pesawat tersebut sudah lolos uji serta mendapat sertifikan laik terbang dari Kemenhub selaku pemegang kewenangan.

“Jadi 50 pesawat cukup panjang (produksinya). Kita juga tanya-tanya ini (ke peminat), ‘mau nunggu gak?’ Tapi ini target kami untuk membuat 24 pesawat pertahunnya. Kami juga sedang melakukan negosiasi harga,” kata dia.